Halaman

Jumat, 24 Februari 2012

MENUMBUHKAN KEAKTIFAN PADA SISWA




MAKALAH
MENUMBUHKAN KEAKTIFAN  PADA SISWA
Dosen Pengampu : Drs, Said Al-Hadi, M.pd



Disusun oleh :
Arifqi widiyanto (10001120)
Semester III
BK ”D”




PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
2011/2012






Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan atas limpahan rahmat dan karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah dengan judul menumbuhkan keaktifan pada siswadengan tepat waktu.
      Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada Drs.Said Alhadi,M.pd sebagai dosen pembimbing mata kuliah belajar pembelajaran, serta  tak lupa pula ucapan terima kasih saya ucapkan kepada orang tua saya yang selalu memberikan dukungan serta do’a kepada saya dalam menempuh studi saya di Universitas Ahmad Dahlan ini. Dan juga ucapan terima kasih saya  kepada pihak – pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini yang tidak bisa saya sebut satu persatu.
saya berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi diri saya sendiri dan bagi orang lain pada umumnya. saya juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah saya ini. Untuk itu saya mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari segenap pihak demi perbaikan makalah yang saya susun berikutnya.

                                                                       
                                            Yogyakarta, 12 November 2011


                                     Penyusun


Daftar Isi

Kata Pengantar ...................................................................................... i

Daftar Isi................................................................................................. ii
BAB I Pendahuluan: .............................................................................. 1
Latar Belakang Masalah.......................................................................... 1

Rumusan Masalah..................................................................................... 2

BAB II Pembahasan................................................................................ 3
pengrtian Pendekatan Belajar Aktif ......................................................... 3

Strategi Pendekatan cara belajar siswa aktif

yang dapat digunakan oleh guru................................................................. 6

Pentingnya Upaya Guru dalam

Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa............................................... 8

Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif.............................................................9

BAB III Kesimpulan............................................................................ ..12
Daftar Pustaka............................................................................... 13





BAB 1
PENDAHULUAN

A.                Latar Belakang
Berjalannya waktu seiring globalisasi yang semakin marak akhir-akhir ini yang menjadikan tugas guru yang semakin berat disamping harus menguasai materi dan tidak membosan kan guru juga harus menumbuhkan sikap percaya diri kepada siswa nya agar siswa tidak malu untuk bertanya kepada guru dan menaggapi apa yang di jelaskan guru kepada siswanya, padahal di zaman yang serba moderen ini semua informasi dapat masuk dengan mudah dengan adanya jaringan internet yang sudah merajalela khususnya di Indonesia ini ,seharusnya siswa lebih bisa memanfaatkan keadaan yang seperti ini untuk mencari materi yang lebih banyak lagi .
Tetapi kenyataan nya tidak begitu, kebanyakan siswa mengunakan internet hanya untuk facebookan,twitteran,catting dll, itu di lakukan karena siswa belum terlalu paham dengan adanya internet. Dengan adanya hal itu siswa menjadi malas membaca sehingga di kelas siswa menjadi kurang bisa mengkritisi dari yang di ajar kan guru kepada siswa tersebut. Karena siswa sering facebookan dan twitteran dan jarang melakukan aktivitas keluar atau di lapangan jadinya siswa akan kurang percayadiri untuk menghadapi orang lain khususnya yang lebih tua. Untuk tahap ini guru di tuntut agar dapat membuat siswa aktif di kelas sehingga kelas dapat menjadi lebih hidup sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi terasa lebih seru dan ilmu yang di ajarkan pun bisa masuk dengan mudah .

B.       Rumusan Masalah

1.        Apa pengrtian Pendekatan Belajar Aktif itu?
2.        Strategi Pendekatan cara belajar siswa aktif yang seperti apa yang dapat
digunakan oleh guru?
3.      Apa Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif itu?
4.      Apa Pentingnya Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa?


BAB II
PEMBAHASAN

1.    Pengertian Pendekatan Belajar Aktif
            Pendekatan Belajar Aktif adalah pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri ini merupakan tujuan akhir dari belajar aktif (Active Learning).
Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimilki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik agar tetap tertuju pada proses
pembelajaran.
            Belajar yang bermakna terjadi bila siswa atau anak didik berperan secara aktif dalam proses belajar dan akhirnya mampu memutuskan apa yang akan dipelajari dan cara mempelajarinya. Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian siswa (anak didik) berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Seperti penelitian yang dikemukakan oleh Pollio ( 1984 ) menunjukan bahwa perhatian siswa (anak didik) dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sedangkan menurut Mc Keachie ( 1986 ) menyebutkan bahwa dalam 10 menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70% dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir. Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual. Sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut            cenderung untuk dilupakan, sebagaimana diungkapkan oleh Konficius:
            • Apa yang saya dengar saya lupa
            • Apa yang saya lihat saya ingat sedikit
            • Apa yang saya lakukan saya paham

            Ketiga pernyataan tersebut menekankan pada pentingnya belajar aktif (Active Learning) agar apa yang dipelajari di sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas tersebut sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran yaitu tidak tuntasnya penguasaan siswa (anak didik) terhadap materi pembelajaran. Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu jawabannya adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara 100 – 200 kata per menit sementara siswa (anak didik) hanya mampu mendengarkan 50 – 100 kata per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru). Karena siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir, kerja otak manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu pengucapan. Dalam hal ini penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikan ingatan sampai 171% dari ingatan semula.
Dengan demikian penambahan visual disamping auditori dalam pembelajaran kesan yang masuk dalam diri siswa (anak didik) semakin kuat sehingga bertahan lebih lama dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal ini disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa saling menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual) dan apa yang dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran).
            Belajar aktif merupakan perkembangan teori Dewrning by Doing ( 1859 – 1952 ). Dewey sangat tidak setuju pada rote Learning “ belajar dengan Menghafal “. Dewey merupakan pendiri Dewey School yang menerapkan prinsip-prinsip “ Learning by Doing “, yaitu bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Dari rasa keingintahuan siswa akan hal-hal yang belum diketahuinya mendorong keterlibatannya secara aktif dalam suatu proses balajar. Belajar aktif mengandung berbagai kiat yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri siswa dan menggali potensi siswa dan guru untuk sama-sama berkembang dan berbagi pengetahuan, ketrampilan, serta pengalaman.
Peran serta siswa (peserta didik) dan guru dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Guru berperan aktif sebagai fasilitator yang membantu memudahkan siswa belajar, sebagai nara sumber yang mampu mengundang pemikiran dan daya kreasi siswa, sebagai pengelola yang mampu merancang dan melaksanakan kegiatan belajar bermakna, dan dapat mengelola sumber belajar yang diperlukan.
Siswa juga terlibat dalam proses belajar bersama guru karena siswa dibimbing, diajar dan dilatih menjelajah, mencari, mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas suatu pertanyaan, mengelola dan menyampaikan hasil perolehannya secara komunikatif.  Siswa juga diharapkan mampu memodifikasi pengetahuan yang baru diterima dengan pengalaman dan pengetahuan yang pernah diterimanya.
            Selain itu, siswa dibina untuk memiliki ketrampilan agar dapat menerapkan dan memanfaatkan pengetahuan yang pernah diterimanya pada hal-hal atau masalah yang baru dihadapinya. Dengan demikian siswa mampu belajar mandiri. Active Learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar Stimulus yang diberikan guru dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi suatu hal yang menyenagkan tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka.
            Dengan demikian Strategi Active Learning (belajar Aktif ) pada anak didik dapat membantu ingatan (memori) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses, hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional. Dalam metode Active Learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar siswa dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar.
            Belajar aktif memperkenalkan pendekatan yang lain daripada gambaran rutin pembelajaran yang sekarang ini banyak terjadi, belajar aktif menuntut keaktifan guru dan juga siswa, belajar aktif juga mensyaratkan terjadinya interaksi yang tinggi antara guru dan siswa. Oleh karena itu guru perlu mengembangkan berbagai kegiatan belajar yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan yang menantang kreativitas siswa yang sesuai dengan karakteristik pelajaran dan karakteristik siswa. Tidak selamanya perancangan pembelajaran yang terintegritas dapat dilakukan oleh guru. Oleh sebab itu guru juga dituntut untuk dapat berkreasi dan menumbuhkan proses belajar aktif dalam pembelajaran yang dibinanya.

 2. Strategi Pendekatan cara belajar siswa aktif yang dapat digunakan oleh guru
a.  Refleksi
  Guru dapat meminta siswa untuk secara berkala merefleksikan hal-hal yang   telah dipelajarinya dalam pembelajaran. Contohnya: melalui jurnal opinion paper .
b.  Pertanyaan Siswa (Anak didik)
  Untuk setiap pokok bahasan atau pertemuan, guru memberi tugas siswa untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang belum dipahami, atau hal-hal yang perlu dibahas bersama guru dan teman-teman siswa lainnya.
c.  Rangkuman
  Guru dapat membiasakan siswa untuk membuat rangkuman terhadap hasil disuksi kelompok yang dilakukan dikelas atau sebagai tugas mandiri. Selain itu rangkuman tersebut juga dapat merupakan tugas untuk mengevaluasi/menilai sesuatu seperti buku, artikel, majalah dan lain-lain berdasarkan prinsip-prinsip yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran.
d.  Pemetaan Kognitif
  Pemetaan kognitif adalah alat untuk membuat siswa aktif belajar tentang konsep-konsep (reposisi) dan skemanya. Pemetaan kognitif juga dapat digunakan untuk menumbuhkan proses belajar aktif siswa. Untuk dapat merancang kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif dan menantang siswa secara intelektual, diperlukan guru yang mempunyai kreativitas dan profesionalisme yang tinggi.

      Belajar Aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prisip-prisip pembelajara yang efektif dan efisien. Artinya guru dapat merekayasa sistem pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa.
      Untuk itu guru diharapkan memiliki kemampuan untuk:
1. memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam
 proses
    pembelajaran.
2. berkreasi mengembangkan gagasan baru.
3. mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan
     pengetahuan yang diperoleh dari masyarakat.
4. mempelajari relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan
     kebutuhan sehari-hari dalam masyarakat.
5. mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan prilaku siswa secara bertahap dan
     utuh.
6. memberi kesempatan pada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai
     dengan kemampuannya.
7. menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.

     Dengan demikian, belajar aktif diasumsikan sebagai pendekatan belajar yang efektif untuk dapat membentuk siswa sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai kemampuan untuk belajar mandiri sepanjang hayatnya, dan untuk membina profesionalisme guru.
Belajar aktif mensyaratkan diberikannya umpan balik secara terus menerus dari guru kepada siswa dan juga sebaliknya dari siswa kepada guru. Umpan balik guru kepada siswa menjelaskan tentang prestasi belajar siswa yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan, juga kelemahan siswa yang perlu diperbaiki. Sebaliknya, umpan balik siswa kepada guru perlu diperhatikan sebagai masukan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang berlangsung.
3.      Pentingnya Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa
Guru merupakan penanggung jawab kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas. Sebab gurulah yang langsung memberikan kemungkinan bagi para siswa belajar dengan efektif melalui pembelajaran yang dikelolanya. Dalam konteks ini Nana Sudjana yang dikutip Cece Wijaya dan A. Tabrani mengemukakan sebagai berikut:
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi kebiasaan dan lain-lain yang merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa guru memegang peranan penting terhadap proses belajar siswa melalui pembelajaran yang dikelolanya. Untuk itu guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang baik dengan siswa, agar mereka dapat melakukan berbagai aktivitas belajar dengan efektif.
Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebab segala keaktifan siswa dalam belajar sangat menentukan bagi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya mengemukakan bahwa “proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut.”
Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri. Mengenai hal ini E. Mulyasa mengatakan bahwa:
Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.
Agar siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, maka diperlukan berbagai upaya dari guru untuk dapat membangkitkan keaktifan mereka. Sehubungan dengan pentingnya upaya guru dalam membangkitkan keaktifan siswa dalam belajar, R. Ibrahim dan Nana Syaodih mengemukakan bahwa:
Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pengajaran siswalah yang menjadi subjek, dialah pelaku kegiatan belajar. Agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka hendaknya guru merencanakan pengajaran, yang menuntut siswa banyak melakukan aktivitas belajar. Hal ini tidak berarti siswa dibebani banyak tugas. Aktivitas atau tugas-tugas yang dikerjakan siswa hendaknya menarik minat siswa, dibutuhkan dalam perkembangannya, serta bermanfaat bagi masa depannya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka  dalam pembelajaran upaya guru dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa sangatlah penting. Sebab keaktifan belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.

4.  Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif
Untuk menjadikan aktif, maka pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis serta mengetahui prinsip-prinsinya, Nana Sudjana (1989:27-29) mengungkapkan prisip-prinsip belajar aktif antara lain:
1). Stimulus belajar
Yang dimaksud dengan stimulus belajar adalah segala hal di luar individu itu untuk mengadakan reaksi atau perbuatan belajar (Soemanto, 1999:108). Pesan yang diterima siswa dari guru melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus. Stimulus tersebut dapat berbentuk verbal atau bahasa, visual, auditif, taktik dan lain-lain. Stimulus hendaknya disampaikan dengan upaya membantu agar siswa menerima pesan dengan mudah.
2). Perhatian dan motivasi
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek (Suryabrata, 1993:14). Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai (Sardiman, 1996:101).
Perhatian dan motivasi akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, untuk memotivasi dan memberikan perhatian pada kegiatan belajar, pengajar dapat melakukan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan pembelajaran yang menyenangkan. Motivasi belajar yang diberikan oleh guru tidak akan berarti tanpa adanya perhatian dan motivasi siswa.
Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.

3). Respon yang dipelajari
Belajar adalah proses belajar yang aktif, sehingga apabila tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan belajar sebagai respon siswa terhadap stimulus guru, maka tidak mungkin siswa dapat mencapai hasil belajar yang dikehendaki.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.
4). Penguatan
Setiap tingkah laku yang diikuti oleh kepuasan terhadap bebutuhan siswa akan mempunyai kecenderungan untuk diulang kembali. Sumber penguat belajar untuk pemuasan kebutuhan yang berasal dari luar adalah nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat siswa, pemberian hadiah dan lain-lain.
5). Asosiasi
Secara sederhana, berfikir asosiatif adalah berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuai dengan lainnya. Berfikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan hubungan antara rangsangan dengan respon (Syah, 1995:119). Asosiasi dapat dibentuk melalui pemberian bahan yang bermakna, berorientasi kepada pengetahuan yang telah dimiliki siswa, pemberian contoh yang jelas, pemberian latihan yang jelas, pemberian latihan yang teratur, pemecahan masalah yang serupa, dilakukan dalam situasi yang menyenangkan. Di sini siswa dihadapkan kepada situasi baru yang dapat menuntut pemecahan masalah melalui informasi yang telah dimilikinya (Sudjana, 1989:27-29).


BAB III
KESIMPULAN

Menumbuhakn keaktifan pada siswa itu sangat sulit bagi guru tanpa di dasari dengan niat dan keinginan dari siswa itu sendiri karena saat proses belajar mengajar berlangsung siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia dan dalam 10 menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70% dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir. Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual. Sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan kebanyakan siswa karena  Apa yang saya dengar saya lupa, Apa yang saya lihat saya ingat sedikit, Apa yang saya lakukan saya paham
Kenapa begitu karena siswa menengar dengan berfikir jadi kerja otak sangat berat sehingga anak akan mudah lupa dengan apa yang di dengar. Untuk mengatasi itu seorang guru harus menggunakan banyak metode atau cara mengajar yang tidak membosan kan sehingga siswa dapat mencerna materi dengan baik  sehingga pembelajaran di indonesia ini dapat menjadi baik tidak lagi tertinggal dengan bangsa bangsa barat .



DAFTAR PUSTAKA

Syaiful Bahri Djamari. Strategi belajar mengajar, 2002, Rineka Cipta, Jakarta.
S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar, 2000 Bumi Aksara, Jakarta.

http://heruexa.blogspot.com/2009/06/pentingnya-motivasi-dalam-belajar.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar