MAKALAH
MENUMBUHKAN KEAKTIFAN
PADA SISWA
Dosen Pengampu : Drs, Said Al-Hadi, M.pd
Disusun oleh :
Arifqi widiyanto
(10001120)
Semester III
BK ”D”
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
2011/2012
Kata Pengantar
Puji
syukur saya ucapkan atas limpahan rahmat dan karunia
yang diberikan oleh Allah SWT
kepada saya, sehingga saya dapat
menyelesaikan tugas pembuatan makalah dengan judul “menumbuhkan
keaktifan pada siswa” dengan tepat
waktu.
Ucapan terima kasih juga saya ucapkan
kepada Drs.Said Alhadi,M.pd sebagai
dosen pembimbing mata kuliah belajar
pembelajaran, serta tak lupa pula ucapan terima kasih saya ucapkan kepada orang
tua saya yang selalu
memberikan dukungan serta do’a
kepada saya dalam menempuh studi saya di Universitas Ahmad
Dahlan ini. Dan juga
ucapan terima kasih saya
kepada pihak – pihak
yang telah membantu dalam
menyelesaikan makalah ini yang tidak bisa saya sebut satu persatu.
saya berharap makalah ini
dapat bermanfaat bagi diri saya sendiri dan
bagi orang lain pada umumnya. saya
juga menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam makalah saya ini. Untuk itu saya mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari segenap pihak demi perbaikan makalah yang saya susun berikutnya.
Yogyakarta,
12 November 2011
Penyusun
Daftar Isi
Kata Pengantar ...................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................. ii
BAB I Pendahuluan: .............................................................................. 1
Latar
Belakang Masalah.......................................................................... 1
Rumusan
Masalah..................................................................................... 2
BAB II Pembahasan................................................................................ 3
pengrtian Pendekatan Belajar
Aktif ......................................................... 3
Strategi Pendekatan cara belajar siswa aktif
yang dapat digunakan oleh guru................................................................. 6
Pentingnya
Upaya Guru dalam
Mengembangkan
Keaktifan Belajar Siswa............................................... 8
Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif.............................................................9
BAB III Kesimpulan............................................................................ ..12
Daftar Pustaka............................................................................... 13
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Berjalannya
waktu seiring globalisasi yang semakin marak akhir-akhir ini yang menjadikan
tugas guru yang semakin berat disamping harus menguasai materi dan tidak
membosan kan guru juga harus menumbuhkan sikap percaya diri kepada siswa nya
agar siswa tidak malu untuk bertanya kepada guru dan menaggapi apa yang di
jelaskan guru kepada siswanya, padahal di zaman yang serba moderen ini semua
informasi dapat masuk dengan mudah dengan adanya jaringan internet yang sudah
merajalela khususnya di Indonesia ini ,seharusnya siswa lebih bisa memanfaatkan
keadaan yang seperti ini untuk mencari materi yang lebih banyak lagi .
Tetapi
kenyataan nya tidak begitu, kebanyakan siswa mengunakan internet hanya untuk
facebookan,twitteran,catting dll, itu di lakukan karena siswa belum terlalu
paham dengan adanya internet. Dengan adanya hal itu siswa menjadi malas membaca
sehingga di kelas siswa menjadi kurang bisa mengkritisi dari yang di ajar kan
guru kepada siswa tersebut. Karena siswa sering facebookan dan twitteran dan
jarang melakukan aktivitas keluar atau di lapangan jadinya siswa akan kurang
percayadiri untuk menghadapi orang lain khususnya yang lebih tua. Untuk tahap
ini guru di tuntut agar dapat membuat siswa aktif di kelas sehingga kelas dapat
menjadi lebih hidup sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi terasa lebih
seru dan ilmu yang di ajarkan pun bisa masuk dengan mudah .
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa pengrtian Pendekatan Belajar Aktif itu?
2.
Strategi Pendekatan cara belajar siswa aktif yang seperti apa yang dapat
digunakan oleh guru?
3. Apa Prinsip-Prinsip
Pembelajaran Aktif itu?
4. Apa Pentingnya Upaya
Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pendekatan
Belajar Aktif
Pendekatan Belajar Aktif adalah pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri ini merupakan tujuan akhir dari belajar aktif (Active Learning).
Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimilki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Belajar yang bermakna terjadi bila siswa atau anak didik berperan secara aktif dalam proses belajar dan akhirnya mampu memutuskan apa yang akan dipelajari dan cara mempelajarinya. Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian siswa (anak didik) berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Seperti penelitian yang dikemukakan oleh Pollio ( 1984 ) menunjukan bahwa perhatian siswa (anak didik) dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sedangkan menurut Mc Keachie ( 1986 ) menyebutkan bahwa dalam 10 menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70% dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir. Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual. Sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan, sebagaimana diungkapkan oleh Konficius:
• Apa yang saya dengar saya lupa
• Apa yang saya lihat saya ingat sedikit
• Apa yang saya lakukan saya paham
Pendekatan Belajar Aktif adalah pendekatan dalam pengelolaan sistem pembelajaran melalui cara-cara belajar yang aktif menuju belajar yang mandiri. Kemampuan belajar mandiri ini merupakan tujuan akhir dari belajar aktif (Active Learning).
Pembelajaran aktif (Active Learning) dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimilki oleh anak didik, sehingga semua anak didik dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang mereka miliki. Di samping itu pembelajaran aktif (Active Learning) juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa atau anak didik agar tetap tertuju pada proses pembelajaran.
Belajar yang bermakna terjadi bila siswa atau anak didik berperan secara aktif dalam proses belajar dan akhirnya mampu memutuskan apa yang akan dipelajari dan cara mempelajarinya. Beberapa penelitian membuktikan bahwa perhatian siswa (anak didik) berkurang bersamaan dengan berlalunya waktu. Seperti penelitian yang dikemukakan oleh Pollio ( 1984 ) menunjukan bahwa perhatian siswa (anak didik) dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran yang tersedia. Sedangkan menurut Mc Keachie ( 1986 ) menyebutkan bahwa dalam 10 menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70% dan berkurang sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir. Kondisi tersebut di atas merupakan kondisi umum yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Hal ini menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indera pendengarannya dibandingkan visual. Sehingga apa yang dipelajari di kelas tersebut cenderung untuk dilupakan, sebagaimana diungkapkan oleh Konficius:
• Apa yang saya dengar saya lupa
• Apa yang saya lihat saya ingat sedikit
• Apa yang saya lakukan saya paham
Ketiga pernyataan tersebut menekankan pada pentingnya belajar aktif (Active Learning) agar apa yang dipelajari di sekolah tidak menjadi suatu hal yang sia-sia. Ungkapan di atas tersebut sekaligus menjawab permasalahan yang sering dihadapi dalam proses pembelajaran yaitu tidak tuntasnya penguasaan siswa (anak didik) terhadap materi pembelajaran. Ada beberapa alasan yang dikemukakan mengenai penyebab mengapa kebanyakan orang cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu jawabannya adalah karena adanya perbedaan antara kecepatan bicara guru dengan tingkat kemampuan siswa mendengarkan apa yang disampaikan guru. Kebanyakan guru berbicara 100 – 200 kata per menit sementara siswa (anak didik) hanya mampu mendengarkan 50 – 100 kata per menitnya (setengah dari apa yang dikemukakan guru). Karena siswa mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir, kerja otak manusia tidak sama dengan tape recorder yang mampu merekam suara sebanyak apa yang diucapkan dengan waktu yang sama dengan waktu pengucapan. Dalam hal ini penambahan visual pada proses pembelajaran dapat menaikan ingatan sampai 171% dari ingatan semula.
Dengan demikian penambahan visual disamping auditori dalam pembelajaran
kesan yang masuk dalam diri siswa (anak didik) semakin kuat sehingga bertahan
lebih lama dibandingkan dengan hanya menggunakan audio (pendengaran) saja. Hal
ini disebabkan karena fungsi sensasi perhatian yang dimiliki siswa saling
menguatkan, apa yang didengar dikuatkan oleh penglihatan (visual) dan apa yang
dilihat dikuatkan oleh audio (pendengaran).
Belajar aktif merupakan perkembangan teori Dewrning by Doing ( 1859 – 1952 ). Dewey sangat tidak setuju pada rote Learning “ belajar dengan Menghafal “. Dewey merupakan pendiri Dewey School yang menerapkan prinsip-prinsip “ Learning by Doing “, yaitu bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Dari rasa keingintahuan siswa akan hal-hal yang belum diketahuinya mendorong keterlibatannya secara aktif dalam suatu proses balajar. Belajar aktif mengandung berbagai kiat yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri siswa dan menggali potensi siswa dan guru untuk sama-sama berkembang dan berbagi pengetahuan, ketrampilan, serta pengalaman.
Peran serta siswa (peserta didik) dan guru dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Guru berperan aktif sebagai fasilitator yang membantu memudahkan siswa belajar, sebagai nara sumber yang mampu mengundang pemikiran dan daya kreasi siswa, sebagai pengelola yang mampu merancang dan melaksanakan kegiatan belajar bermakna, dan dapat mengelola sumber belajar yang diperlukan.
Belajar aktif merupakan perkembangan teori Dewrning by Doing ( 1859 – 1952 ). Dewey sangat tidak setuju pada rote Learning “ belajar dengan Menghafal “. Dewey merupakan pendiri Dewey School yang menerapkan prinsip-prinsip “ Learning by Doing “, yaitu bahwa siswa perlu terlibat dalam proses belajar secara spontan. Dari rasa keingintahuan siswa akan hal-hal yang belum diketahuinya mendorong keterlibatannya secara aktif dalam suatu proses balajar. Belajar aktif mengandung berbagai kiat yang berguna untuk menumbuhkan kemampuan belajar aktif pada diri siswa dan menggali potensi siswa dan guru untuk sama-sama berkembang dan berbagi pengetahuan, ketrampilan, serta pengalaman.
Peran serta siswa (peserta didik) dan guru dalam konteks belajar aktif menjadi sangat penting. Guru berperan aktif sebagai fasilitator yang membantu memudahkan siswa belajar, sebagai nara sumber yang mampu mengundang pemikiran dan daya kreasi siswa, sebagai pengelola yang mampu merancang dan melaksanakan kegiatan belajar bermakna, dan dapat mengelola sumber belajar yang diperlukan.
Siswa juga terlibat dalam proses belajar
bersama guru karena siswa dibimbing, diajar dan dilatih menjelajah, mencari,
mempertanyakan sesuatu menyelidiki jawaban atas suatu pertanyaan, mengelola dan
menyampaikan hasil perolehannya secara komunikatif. Siswa juga diharapkan mampu memodifikasi pengetahuan yang baru diterima
dengan pengalaman dan pengetahuan yang pernah diterimanya.
Selain itu, siswa dibina untuk memiliki ketrampilan agar dapat menerapkan dan memanfaatkan pengetahuan yang pernah diterimanya pada hal-hal atau masalah yang baru dihadapinya. Dengan demikian siswa mampu belajar mandiri. Active Learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar Stimulus yang diberikan guru dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi suatu hal yang menyenagkan tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka.
Dengan demikian Strategi Active Learning (belajar Aktif ) pada anak didik dapat membantu ingatan (memori) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses, hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional. Dalam metode Active Learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar siswa dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar.
Belajar aktif memperkenalkan pendekatan yang lain daripada gambaran rutin pembelajaran yang sekarang ini banyak terjadi, belajar aktif menuntut keaktifan guru dan juga siswa, belajar aktif juga mensyaratkan terjadinya interaksi yang tinggi antara guru dan siswa. Oleh karena itu guru perlu mengembangkan berbagai kegiatan belajar yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan yang menantang kreativitas siswa yang sesuai dengan karakteristik pelajaran dan karakteristik siswa. Tidak selamanya perancangan pembelajaran yang terintegritas dapat dilakukan oleh guru. Oleh sebab itu guru juga dituntut untuk dapat berkreasi dan menumbuhkan proses belajar aktif dalam pembelajaran yang dibinanya.
Selain itu, siswa dibina untuk memiliki ketrampilan agar dapat menerapkan dan memanfaatkan pengetahuan yang pernah diterimanya pada hal-hal atau masalah yang baru dihadapinya. Dengan demikian siswa mampu belajar mandiri. Active Learning (belajar aktif) pada dasarnya berusaha untuk memperkuat dan memperlancar Stimulus yang diberikan guru dan respons anak didik dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi suatu hal yang menyenagkan tidak menjadi hal yang membosankan bagi mereka.
Dengan demikian Strategi Active Learning (belajar Aktif ) pada anak didik dapat membantu ingatan (memori) mereka, sehingga mereka dapat dihantarkan kepada tujuan pembelajaran dengan sukses, hal ini kurang diperhatikan pada pembelajaran konvensional. Dalam metode Active Learning (belajar aktif) setiap materi pelajaran yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ada sebelumnya. Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan yang sudah ada. Agar siswa dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi yang tepat guna, sehingga peserta didik mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar.
Belajar aktif memperkenalkan pendekatan yang lain daripada gambaran rutin pembelajaran yang sekarang ini banyak terjadi, belajar aktif menuntut keaktifan guru dan juga siswa, belajar aktif juga mensyaratkan terjadinya interaksi yang tinggi antara guru dan siswa. Oleh karena itu guru perlu mengembangkan berbagai kegiatan belajar yang melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan yang menantang kreativitas siswa yang sesuai dengan karakteristik pelajaran dan karakteristik siswa. Tidak selamanya perancangan pembelajaran yang terintegritas dapat dilakukan oleh guru. Oleh sebab itu guru juga dituntut untuk dapat berkreasi dan menumbuhkan proses belajar aktif dalam pembelajaran yang dibinanya.
2. Strategi Pendekatan cara belajar siswa aktif yang dapat digunakan oleh guru
a. Refleksi
Guru dapat meminta siswa untuk secara berkala merefleksikan hal-hal yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran. Contohnya: melalui jurnal opinion paper .
b. Pertanyaan Siswa (Anak didik)
Untuk setiap pokok bahasan atau pertemuan, guru memberi tugas siswa untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang belum dipahami, atau hal-hal yang perlu dibahas bersama guru dan teman-teman siswa lainnya.
c. Rangkuman
Guru dapat membiasakan siswa untuk membuat rangkuman terhadap hasil disuksi kelompok yang dilakukan dikelas atau sebagai tugas mandiri. Selain itu rangkuman tersebut juga dapat merupakan tugas untuk mengevaluasi/menilai sesuatu seperti buku, artikel, majalah dan lain-lain berdasarkan prinsip-prinsip yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran.
d. Pemetaan Kognitif
Pemetaan kognitif adalah alat untuk membuat siswa aktif belajar tentang konsep-konsep (reposisi) dan skemanya. Pemetaan kognitif juga dapat digunakan untuk menumbuhkan proses belajar aktif siswa. Untuk dapat merancang kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif dan menantang siswa secara intelektual, diperlukan guru yang mempunyai kreativitas dan profesionalisme yang tinggi.
Guru dapat meminta siswa untuk secara berkala merefleksikan hal-hal yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran. Contohnya: melalui jurnal opinion paper .
b. Pertanyaan Siswa (Anak didik)
Untuk setiap pokok bahasan atau pertemuan, guru memberi tugas siswa untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan tentang hal-hal yang belum dipahami, atau hal-hal yang perlu dibahas bersama guru dan teman-teman siswa lainnya.
c. Rangkuman
Guru dapat membiasakan siswa untuk membuat rangkuman terhadap hasil disuksi kelompok yang dilakukan dikelas atau sebagai tugas mandiri. Selain itu rangkuman tersebut juga dapat merupakan tugas untuk mengevaluasi/menilai sesuatu seperti buku, artikel, majalah dan lain-lain berdasarkan prinsip-prinsip yang telah dipelajarinya dalam pembelajaran.
d. Pemetaan Kognitif
Pemetaan kognitif adalah alat untuk membuat siswa aktif belajar tentang konsep-konsep (reposisi) dan skemanya. Pemetaan kognitif juga dapat digunakan untuk menumbuhkan proses belajar aktif siswa. Untuk dapat merancang kegiatan yang melibatkan siswa secara aktif dan menantang siswa secara intelektual, diperlukan guru yang mempunyai kreativitas dan profesionalisme yang tinggi.
Belajar Aktif menuntut guru bekerja secara profesional, mengajar secara sistematis, dan berdasarkan prisip-prisip pembelajara yang efektif dan efisien. Artinya guru dapat merekayasa sistem pembelajaran yang dilaksanakan secara sistematis dan menjadikan proses pembelajaran sebagai pengalaman yang bermakna bagi siswa.
Untuk itu guru diharapkan memiliki kemampuan untuk:
1. memanfaatkan sumber belajar di lingkungannya secara optimal dalam proses
pembelajaran.
2. berkreasi mengembangkan gagasan baru.
3. mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan
2. berkreasi mengembangkan gagasan baru.
3. mengurangi kesenjangan pengetahuan yang diperoleh siswa dari sekolah dengan
pengetahuan yang
diperoleh dari masyarakat.
4. mempelajari relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan
4. mempelajari relevansi dan keterkaitan mata pelajaran bidang ilmu dengan
kebutuhan sehari-hari
dalam masyarakat.
5. mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan prilaku siswa secara bertahap dan
5. mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, dan prilaku siswa secara bertahap dan
utuh.
6. memberi kesempatan pada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai
6. memberi kesempatan pada siswa untuk dapat berkembang secara optimal sesuai
dengan kemampuannya.
7. menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.
7. menerapkan prinsip-prinsip belajar aktif.
Dengan demikian, belajar aktif diasumsikan sebagai pendekatan belajar yang efektif untuk dapat membentuk siswa sebagai manusia seutuhnya yang mempunyai kemampuan untuk belajar mandiri sepanjang hayatnya, dan untuk membina profesionalisme guru.
Belajar aktif mensyaratkan diberikannya umpan balik secara terus menerus dari guru kepada siswa dan juga sebaliknya dari siswa kepada guru. Umpan balik guru kepada siswa menjelaskan tentang prestasi belajar siswa yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan, juga kelemahan siswa yang perlu diperbaiki. Sebaliknya, umpan balik siswa kepada guru perlu diperhatikan sebagai masukan untuk memperbaiki proses pembelajaran yang berlangsung.
3.
Pentingnya Upaya Guru dalam Mengembangkan
Keaktifan Belajar Siswa
Guru merupakan
penanggung jawab kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas. Sebab gurulah
yang langsung memberikan kemungkinan bagi para siswa belajar dengan efektif
melalui pembelajaran yang dikelolanya. Dalam konteks ini Nana Sudjana yang
dikutip Cece Wijaya dan A. Tabrani mengemukakan sebagai berikut:
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi kebiasaan dan lain-lain yang merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi kebiasaan dan lain-lain yang merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.
Dengan demikian dapat
dipahami bahwa guru memegang peranan penting terhadap proses belajar siswa
melalui pembelajaran yang dikelolanya. Untuk itu guru perlu menciptakan kondisi
yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang baik dengan siswa, agar
mereka dapat melakukan berbagai aktivitas belajar dengan efektif.
Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebab segala keaktifan siswa dalam belajar sangat menentukan bagi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya mengemukakan bahwa “proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut.”
Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri. Mengenai hal ini E. Mulyasa mengatakan bahwa:
Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.
Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebab segala keaktifan siswa dalam belajar sangat menentukan bagi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya mengemukakan bahwa “proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut.”
Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri. Mengenai hal ini E. Mulyasa mengatakan bahwa:
Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.
Agar siswa terlibat
aktif dalam proses pembelajaran, maka diperlukan berbagai upaya dari guru untuk
dapat membangkitkan keaktifan mereka. Sehubungan dengan pentingnya upaya guru
dalam membangkitkan keaktifan siswa dalam belajar, R. Ibrahim dan Nana Syaodih
mengemukakan bahwa:
Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pengajaran siswalah yang menjadi subjek, dialah pelaku kegiatan belajar. Agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka hendaknya guru merencanakan pengajaran, yang menuntut siswa banyak melakukan aktivitas belajar. Hal ini tidak berarti siswa dibebani banyak tugas. Aktivitas atau tugas-tugas yang dikerjakan siswa hendaknya menarik minat siswa, dibutuhkan dalam perkembangannya, serta bermanfaat bagi masa depannya.
Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pengajaran siswalah yang menjadi subjek, dialah pelaku kegiatan belajar. Agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka hendaknya guru merencanakan pengajaran, yang menuntut siswa banyak melakukan aktivitas belajar. Hal ini tidak berarti siswa dibebani banyak tugas. Aktivitas atau tugas-tugas yang dikerjakan siswa hendaknya menarik minat siswa, dibutuhkan dalam perkembangannya, serta bermanfaat bagi masa depannya.
Berdasarkan hal tersebut
di atas, maka dalam pembelajaran upaya guru dalam mengembangkan keaktifan
belajar siswa sangatlah penting. Sebab keaktifan belajar siswa menjadi penentu
bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.
4. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Aktif
Untuk menjadikan aktif,
maka pembelajaran harus direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis serta
mengetahui prinsip-prinsinya, Nana Sudjana (1989:27-29) mengungkapkan
prisip-prinsip belajar aktif antara lain:
1). Stimulus belajar
1). Stimulus belajar
Yang dimaksud dengan stimulus
belajar adalah segala hal di luar individu itu untuk mengadakan reaksi atau
perbuatan belajar (Soemanto, 1999:108). Pesan yang diterima siswa dari guru
melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus. Stimulus tersebut dapat
berbentuk verbal atau bahasa, visual, auditif, taktik dan lain-lain. Stimulus
hendaknya disampaikan dengan upaya membantu agar siswa menerima pesan dengan
mudah.
2). Perhatian dan motivasi
2). Perhatian dan motivasi
Perhatian adalah
pemusatan tenaga psikis tertuju kepada suatu obyek (Suryabrata, 1993:14).
Sedangkan yang dimaksud dengan motivasi adalah keseluruhan daya penggerak di
dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah
kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai (Sardiman,
1996:101).
Perhatian dan motivasi
akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa, untuk memotivasi dan memberikan
perhatian pada kegiatan belajar, pengajar dapat melakukan berbagai model
pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan pembelajaran yang menyenangkan.
Motivasi belajar yang diberikan oleh guru tidak akan berarti tanpa adanya
perhatian dan motivasi siswa.
Ada beberapa cara untuk
menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang
bervariasi, mengadakan pengulangan informasi, memberikan stimulus baru melalui
pertanyaan kepada siswa, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan
keinginan belajarnya, menggunakan media dan alat bantu yang menarik perhatian
siswa seperti gambar, foto, diagram dan lain-lain. Secara umum siswa akan
terangsang untuk belajar apabila ia melihat bahwa situasi belajar mengajar
cenderung memuaskan dirinya sesuai dengan kebutuhannya.
3). Respon yang dipelajari
3). Respon yang dipelajari
Belajar adalah proses
belajar yang aktif, sehingga apabila tidak dilibatkan dalam berbagai kegiatan
belajar sebagai respon siswa terhadap stimulus guru, maka tidak mungkin siswa
dapat mencapai hasil belajar yang dikehendaki.
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.
4). Penguatan
Keterlibatan atau respon siswa terhadap stimulus guru bisa meliputi berbagai bentuk seperti perhatian, proses internal terhadap informasi, tindakan nyata dalam bentuk partisipasi kegiatan belajar seperti memecahkan masalah, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, menilai kemampuan dirinya dalam menguasai informasi, melatih diri dalam menguasai informasi yang diberikan oleh guru dan lain-lain.
4). Penguatan
Setiap tingkah laku yang
diikuti oleh kepuasan terhadap bebutuhan siswa akan mempunyai kecenderungan
untuk diulang kembali. Sumber penguat belajar untuk pemuasan kebutuhan yang
berasal dari luar adalah nilai, pengakuan prestasi siswa, persetujuan pendapat
siswa, pemberian hadiah dan lain-lain.
5). Asosiasi
5). Asosiasi
Secara sederhana,
berfikir asosiatif adalah berfikir dengan cara mengasosiasikan sesuai dengan
lainnya. Berfikir asosiatif itu merupakan proses pembentukan hubungan antara
rangsangan dengan respon (Syah, 1995:119). Asosiasi dapat dibentuk melalui
pemberian bahan yang bermakna, berorientasi kepada pengetahuan yang telah
dimiliki siswa, pemberian contoh yang jelas, pemberian latihan yang jelas,
pemberian latihan yang teratur, pemecahan masalah yang serupa, dilakukan dalam
situasi yang menyenangkan. Di sini siswa dihadapkan kepada situasi baru yang
dapat menuntut pemecahan masalah melalui informasi yang telah dimilikinya
(Sudjana, 1989:27-29).
BAB
III
KESIMPULAN
Menumbuhakn keaktifan pada siswa itu sangat sulit bagi
guru tanpa di dasari dengan niat dan keinginan dari siswa itu sendiri karena
saat proses belajar mengajar berlangsung siswa dalam ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu
pembelajaran yang tersedia dan dalam 10 menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70% dan berkurang
sampai menjadi 20% pada waktu 20 menit terakhir. Kondisi tersebut di atas
merupakan kondisi umum yang terjadi dalam lingkungan sekolah. Hal ini
menyebabkan seringnya terjadi kegagalan dalam dunia pendidikan kita, terutama
disebabkan anak didik di ruang kelas lebih banyak menggunakan indera
pendengarannya dibandingkan visual. Sehingga apa yang dipelajari di kelas
tersebut cenderung untuk dilupakan kebanyakan siswa
karena Apa yang saya dengar saya lupa, Apa yang saya lihat saya ingat sedikit, Apa yang saya lakukan saya paham
Kenapa begitu karena siswa menengar dengan
berfikir jadi kerja otak sangat berat sehingga anak akan mudah lupa dengan apa
yang di dengar. Untuk mengatasi itu seorang guru harus menggunakan banyak
metode atau cara mengajar yang tidak membosan kan sehingga siswa dapat mencerna
materi dengan baik sehingga pembelajaran
di indonesia ini dapat menjadi baik tidak lagi tertinggal dengan bangsa bangsa
barat .
DAFTAR
PUSTAKA
Syaiful Bahri Djamari. Strategi belajar mengajar, 2002, Rineka Cipta, Jakarta.
S. Nasution, Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar, 2000 Bumi Aksara, Jakarta.
http://heruexa.blogspot.com/2009/06/pentingnya-motivasi-dalam-belajar.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar